Rabu, 16 Maret 2011

Sebuah Prolog

Kesehatan merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan. Tanpa tubuh yang sehat akan sulit bagi kita untuk produktif dan menikmati berbagai hal dalam kehidupan.Hampir setiap orang mengerti dan memahami akan pentingnya kesehatan. Akan tetapi tidak sedikit pula yang belum menyadari dan berusaha untuk menjaga aset terpenting tersebut. Ketika tubuh sudah lemah dan tak berdaya karena sakit, kita hanya mampu menyesali dan baru menghargai kesehatan. Health is not valued till sickness comes.
Saya pun salah satu dari yang tidak sedikit itu. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan, nampaknya tidak cukup bagi saya untuk menyadari perilaku sehat bagi tubuh saya. Kesehatan hanya teori di kepala, aplikasi ke dalam praktik kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah saya terapkan. Contoh paling sederhana adalah olahraga. Hampir selalu dengan alasan malas atau bahkan yang mengada-ada seperti tidak punya waktu, membuat saya tidak juga memberikan kesempatan bagi tubuh untuk bergerak. Akibatnya, ketika saya membutuhkan kekuatan untuk melakukan aktivitas yang ekstra, tubuh pun malas untuk memberikan kontribusi energi kepada saya. Kegiatan yang sekiranya membutuhkan tenaga membuat tubuh saya lebih mudah letih. Saya tidak mampu melakukan aktivitas secara optimal, pekerjaan banyak terbengkalai dan akhirnya semangat hidup ikut menurun. Letih, penat dan lesu menghiasi hari-hari saya. Keadaan tersebut membuat saya mengalami kebosanan, bahkan kebosanan akan hidup. Sungguh memprihatinkan.
          Seribu jalan menuju Roma. Ternyata kehamilan pertama saya menjadi jalan untuk menemukan makna kesehatan yang sebenarnya. Bukan karena kehamilan itu sendiri, akan tetapi karena efek yang ditimbulkan karena hamil. Sangat wajar jika wanita hamil memiliki potensi besar untuk menjadi gemuk. Asupan gizi sangat diperhatikan demi pertumbuhan dan perkembangan janin. Tapi terkadang bagi wanita yang suka menyalahgunakan “kekuasaannya”, kehamilan menjadi senjata ampuh untuk pembenaran terhadap nafsu makan yang berlebih. Dan saya salah satu wanita oportunis itu. Berat badan saya mengalami kenaikan sebanyak 25 kg. Dengan berat awal 54 kg menjadi 79 kg.   Angka yang fantastis dan bombastis bukan? Ketika ada teman yang bertanya “Naik berapa kilo, nih?”, saya selalu menjawab dengan angka yang sudah berkurang 5 kg dari berat sesungguhnya. Entah mereka percaya atau tidak.
         Pasca melahirkan, 7 kg berat badan saya menyusut dari 3 kg berat lahir bayi saya dan 4 kg sisanya adalah cairan. Artinya, masih tertinggal “harta karun” sebanyak 19 kg. Tubuh saya yang mengalami transformasi begitu cepat dan nyata itu membuat hampir semua orang yang mengenali saya terkejut dengan perubahan yang begitu drastis. Akibatnya,saya menjadi malu dan tidak percaya diri. Walaupun mungkin reaksi yang ditunjukkan mereka hanya spontanitas tanpa berniat untuk “melukai”.
Tidak hanya berhenti sampai di situ, ternyata diperlukan kekuatan Super Woman untuk merawat bayi. Dengan membawa beban tubuh sebesar itu, sangat tidak leluasa bagi saya untuk bisa melakukan gerakan yang gesit, lincah dan membutuhkan stamina. Kadar progesteron yang menurun pun semakin memperparah keadaan saya saat itu
Dengan berdalih kesehatan atau mungkin lebih tepatnya kesehatan mental (baca: malu), membuat saya termotivasi untuk secepatnya menurunkan berat badan. Saya menghimpun sekuat tenaga, jiwa dan raga untuk mulai melaksanakan program diet. Maklum, selera makan saya begitu besar, mengurangi dan menghindari makanan seperti sesuatu hal yang menakutkan bagi saya.
Motivasi mengalahkan rasa takut pada diri saya. Lebih baik mengatasi rasa takut daripada harus terus malu dengan kondisi tubuh saya. Selain itu saya selalu berusaha untuk mematuhi aturan diet yang berlaku. Jika saya mulai tergoda pada makanan-minuman “haram”, saya selalu kembali mengingat motivasi yang sudah tertanam. Untuk melaksakan aturan diet pun saya selalu mencari referensi sebanyak mungkin. Mulai dari browsing via internet maupun membeli buku. Apa yang harus dilakukan, makanan apa yang harus dihindari dan apa yang sebaiknya dikonsumsi. Dari berbagai referensi tesebut semakin menuntun saya untuk berada di jalur diet yang benar. Berawal dari referensi pun saya menyadari bahwa ternyata diet bukanlah siksaan yang harus terpasung oleh kelaparan berkepanjangan. Saya yang dulunya tergolong malas berolahraga mau tak mau melakukan olahraga dengan teratur. Di luar dugaan, olahraga semakin lama seperti candu. Saya semakin adiksi terhadap olahraga, setiap kali selesai berlatih, endorfin mengucur deras dan menimbulkan perasa bahagia. Tidak dapat dipercaya jika akhirnya tubuh saya semakin sehat dan berstamina
Berbekal motivasi, disiplin dan referensi selama 4 bulan menjalankan program diet akhirnya mengantarkan saya untuk mencapai bentuk tubuh yang diinginkan. Bukan hanya tubuh ideal yang dicapai, saya pun mendapat kebugaran yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Badan lebih sehat, pola pikir berubah, pikiran lebih positif, hidup terasa lebih hidup dan merasa seperti dilahirkan kembali. Saya baru benar-benar menyadari bahwa ternyata menjaga kesehatan tidak hanya berefek pada tubuh, tetapi juga pada jiwa saya.
          Setelah mencapai berat badan seperti yang diinginkan, misi selanjutnya adalah berusaha untuk mempertahankan berat badan dan memelihara kesehatan. Untuk mempertahankan usaha tersebut, motivasi yang saya tanam adalah keinginan untuk awet muda. Menjadi tua mutlak tidak dapat dihindari, tetapi memperlambat suatu proses penuaan adalah pilihan. Dengan menunda penuaan, ketika menginjak masa tua kita bisa beraktivitas dan memiliki performa yang baik dibanding mereka yang ketika masa mudanya tidak melakukan usaha apapun.
Berdasar pengalaman pribadi dan pengetahuan kesehatan yang didapat, membuat saya tertarik untuk menuangkannya di blog ini untuk berbagi informasi dan pengalaman seputar kesehatan  atau bahkan hanya sekedar refreshing. Health, the greatest of all we count as blessing.

-Fara Silvia-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar